Perbedaannya terletak pada cara orang mempersepsi suatu
peristiwa, apakah itu negatif atau positif. Dan hal ini dipengaruhi oleh
bagaimana kita menilai kemampuan kita sendiri dalam mengatasinya dan bagaimana
kita berpikir tentang karakteristik spesifik dari stressor itu sendiri
(misalnya, seberapa intens ia menciptakan tuntutan, berapa lama berlangsung,
dll). Jadi bukan peristiwanya semata, tapi juga cara kita berfikir mengenai
peristiwa itu.
Ketika menganalisa kemampuan, kita mengevaluasi sumber daya
yang ada (misalnya, seberapa sehat kita, berapa banyak energi yang kita miliki,
apakah keluarga dan teman dapat membantu, kemampuan kita untuk bangkit, dan
berapa banyak uang atau peralatan yang kami miliki), dan kemungkinan yang kita
miliki untuk mengendalikan situasi kita. Jika kita percaya bahwa kita
kekurangan sumber daya untuk mengatasi situasi, kita akan melihatnya sebagai
stres negatif. Sebaliknya, jika kita
percaya bahwa kita memiliki sumber daya, stressor tidak akan menenggelamkan
kita dan sebagai gantinya mungkin dianggap sebagai eustress, stress yang
positif. Sebagai contoh, seorang gadis
remaja dengan dukungan sosial dan keuangan yang terbatas mungkin melihat
menjadi hamil sebagai stres negatif, sementara seorang wanita setengah baya
dengan